|
Dalam tahun 2006 Kongregasi para Suster St. Dominikus akan merayakan 75 tahun keberadaannya di Indonesia. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para Suster untuk merefleksikan hidup Kongregasi mereka dengan bertanya diri sejauh mana mereka, sebagai pengikut St. Dominikus, telah melaksanakan dan menghayati pewartaan sesuai dengan tema Yubileum " BERTUMBUH DALAM SUKACITA MENEBARKAN KEBENARAN “. Saya termasuk salah satu orang yang oleh Panitia Yubileum 75 diminta menulis refleksi tentang hal tersebut di atas. Saya mengalami kesulitan untuk menilai sejauh mana para Suster St Dominikus ( Suster OP ) sudah melaksanakan dan menghayati pewartaan menurut spiritualitas St Dominikus, sebab saya sendiri tidak begitu mengetahui spiritualitas Dominikan. Saya juga tidak tahu, dalam arti apa Kongregasi Suster-Suster OP di Indonesia mengambil bagian dalam kehidupan para Imam Ordo St Dominikus. Oleh sebab itu dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan pengamatan saya pribadi terhadap hidup dan karya para Suster OP di Indonesia yang saya kenal selama kurang lebih 40 tahun terakhir ini. Di samping itu saya juga ingin menyumbangkan pemikiran tentang masa depan Kongregasi. |  |
Ucapan terimakasih
Pertama-tama saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk, atas nama komunitas Ordo Trappist di Rawaseneng, mengucapkan banyak terimakasih kepada Kongregasi Para Suster OP di Indonesia, yang dalam tahun 1962, atas undangan pemimpin pertapaan kami, Romo Bavo van der Ham OCSO, mau membuka suatu komunitas Suster OP di dusun Rawaseneng. Tujuannya yang utama ialah untuk mengambil alih balai pengobatan yang sampai waktu itu dilayani oleh anggota komunitas kami. Dengan demikian kedatangan para Suster OP di Rawaseneng membebaskan komunitas kami dari suatu bentuk pelayanan yang sebenarnya tidak begitu sejalan dengan tradisi Ordo kami Sesudah itu para Suster OP juga mendirikan TK dan SD di Rawaseneng dan menjalin kerja sama dengan komunitas kami di dalam berbagai bidang pelayanan. Bahkan sesudah komunitas kami, sekitar tahun 1990, mulai menyiapkan berdirinya suatu biara Trappist baru di dusun Lamanabi, paroki Waiklibang, Keuskupan Larantuka, Kongregasi para Suster OP juga membuka komunitas yang berkarya di paroki yang sama serta menjalin kerjasama yang baik dengan komunitas kami di situ atas hubungan persaudaraan dan kerjasama yang baik itu saya mengucapkan banyak terimakasih
Perkembangan selama 40 tahun terakhir
Saya tidak mengenal perkembangan para Suster sebelum mereka mulai membuka komunitas di Rawaseneng dalam tahun 1962. Menurut pengamatan saya, sejak waktu itu para Suster OP di Indonesia mengalami perkembangan besar di berbagai bidang. Yang paling mudah dilihat ialah perkembangan jumlah komunitas dan jumlah anggotanya. Sejauh saya tahu, sebelum mendirikan komunitas di Rawaseneng dalam tahun 1962 Kongregasi para Suster OP mempunyai 3 komunitas, yaitu 2 di Keuskupan Bandung, 1 di Keuskupan Purwokerto. Dalam tahun 2005 jumlah komunitas mereka naik menjadi 14, dengan rincian sebagai berikut :3 di Keuskupan Bandung, 3 di Keuskupan Purwokerto, 5 di Keuskupan Agung Semarang, 2 di Keuskupan Agung Jakarta dan 1 di Keuskupan Larantuka (yang terdiri dari 2 rumah). Jumlah anggotanya pun naik juga, meskipun akhir-akhir ini ada gejala menurun. Saya tidak mempunyai catatan tentang jumlah anggota para Suster OP dalam tahun 1962. Menurut Buku Petunjuk Gereja tahun 1977 jumlah Suster profesnya 65 orang, sedangkan dalam bulan Juli 2005 jumlah mereka 106. Jadi selama 40 tahun ini wilayah karya para Suster OP menjadi lebih luas dan jumlah komunitas maupun anggota-anggotanya juga lebih besar Jelas bahwa karyanya pun pasti lebih banyak juga. Tingkat pendidikan formal para Suster mengalami peningkatan. Sekarang ini jumlah Suster yang pernah menjalani pendidikan di perguruan tinggi jauh lebih besar daripada 40 tahun yang lalu Komposisi tempat asal para Suster juga mengalami perubahan Selama 40 tahun terakhir jumlah Suster yang berasal dari Nederland dan Suster berketurunan Belanda yang lahir di Indonesia amat berkurang. Di samping Suster Jawa dan keturunan Tionghoa, sekarang ada juga banyak Suster yang berasal dari Nusa Tenggara Timur Ada juga Suster yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Keanekaragaman suku itu dapat memperkaya Kongregasi, tetapi dapat juga menimbulkan tantangan- tantangan baru. Lebih-lebih struktur hukum Kongregasi mengalami perubahan mendasar Sejak akhir tahun 1987 Kongregasi Suster-Suster OP di Indonesia memisahkan diri dari Kongregasi Induknya yang berpusat di Neerbosch Nederland dan menjadi Kongregasi mandiri bertingkat diosesan di bawah Uskup Bandung. Dengan demikian tampaklah, bahwa selama 40 tahun terakhir Kongregasi Suster-Suster OP di Indonesia mengalami pertumbuhan besar di berbagai segi hidup dan karyanya serta menjadi suatu Kongregasi mandiri.
Menyongsong masa depan
Masa depan terletak di tangan Tuhan. Jika tidak ada halangan yang merintang, dalam tahun 2031 Kongregasi Suster-Suster St Dominikus akan merayakan 100 tahun kehadiranya di Indonesia. Apa yang akan dihadapi oleh Kongregasi antara perayaan 75 tahun dan perayaan 100 tahun? Untuk bisa menjawab pertanyaan itu kita harus berani bermimpi. Tetapi impian kita tentang masa depan harus berpijak pada kenyataan yang kita amati masa sekarang dan pada pengamatan terhadap masa lampau. Sebagai suatu Kongregasi yang berlindung pada St Dominikus, Kongregasi Suster-Suster St Dominikus di Indonesia mempunyai tanggungjawab memahami, mendalami, mencintai dan mengahayati spiritualitas St. Dominikus. Padahal, seperti spiritualitas-spiritualitas lain yang ada di pangkuan Gereja, spiritualitas para anggora Keluarga Dominikan pun di tahun-tahun mendatang harus bergulat untuk mempertajam dan mempertahankan jatidiri mereka di tengah gelombang perubahan-perubahan besar yang sedang melanda semua segi kehidupan di dalam Gereja dan masyarakat dunia. Untuk bisa mengikuti perkembangan pemahaman atas spiritualitasnya, para Suster OP di Indonesia perlu menjalin hubungan erat dengan anggota-anggota Keluarga Dominikan yang berada di luar negeri.
Selama 40 tahun terakhir Kongregasi mengalami perkembangan dan perubahan besar lingkup wilayah kehadirannya menjadi lebih luas, ukuran komunitasnya menjadi lebih bervariasi, jumlah dan bentuk karyanya menjadi lebih beraneka ragam, latar belakang para anggotanya lebih berbeda-beda, tingkat pendidikan mereka lebih tinggi sehingga mereka menjadi lebih mandiri dalam berpendapat dan lebih kritis dalam berfikir, mitra kerjanya lebih bermacam-macam, persoalan-persoalan yang dihadapi menjadi lebih banyak dan lebih kompleks. Semuanya itu menjadi lebih sulit dikendalikan.
Dalam tahun-tahun mendatang tantangan-tantangan yang harus dihadapi akan lebih kompleks, padahal jumlah Suster yang berusia di atas 65 tahun akan makin besar sedangkan yang berusia antara 50 dan 65 tahun hanya sedikit saja. Kelompok terbesar akan berusia antara 30 dan 50 tahun, sedangkan yang berusia di bawah 30 tahun hanya sedikit. Itu berarti bahwa akan ada perubahan proporsi antara para Suster yang sudah purnakarya dan para Suster yang masih mampu berkarya penuh , Padahal volume dan keragaman karyanya tidak akan berkurang, kecuali kalau Kongregasi mempunyai keberanian untuk mengurangi karya yang ditanganinya. Besarnya jumlah Suster lanjut usia juga akan mengakibatnya naiknya biaya pelayanan kesehatan dan pengobatan, Singkatnya, dapat diperkirakan, bahwa karya dan persoalan yang akan dihadapi akan bertambah banyak, sedangkan jumlah para Suster yang masih dapat berkarya penuh akan berkurang,
Untuk menyongsong masa depan seperti itu, Kongregasi perlu mengadakan konsolidasi atau meningkatkan kesatuan para anggotanya. Kesatuan itu harus didasarkan atas kesepakatan mengenai visi tentang hidup dan perutusan Kongregasi., diperkokoh oleh iklim persaudaraan yang ditandai oleh bela rasa serta kesediaan untuk saling mendukung dan saling mengampuni, dilengkapi oleh kepekaan dan kepedulian terhadap kaum miskin di sekitar, dan dimantapkan oleh kemampuan untuk semakin meningkatkan solidaritas dengan Gereja dan masyarakat setempat. Semuanya itu tidaklah mungkin terwujud jika para Suster hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri. " Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5). Konsolidasi itu merupakan pertama-tama karya Allah, Meskipun begitu para Suster tidak boleh berpangku tangan sambil menantikan apa yang akan terjadi. Dari pihak para Suster pun perlu ada usaha. Mereka perlu memberikan perhatian istimewa kepada pembinaan berkelanjutan bagi semua Suster dari semua angkatan. Sebaiknya yang diutamakan adalah pembinaan yang diadakan di komunitas masing-masing, di tempat para Suster membangun persaudaraan dan menjalankan perutusan sehari-hari. Alangkah baiknya jika pembinaan berkelanjutan itu dapat berpegang pada arah dasar yang diputuskan oleh Pemimpin Kongregasi sesudah dibicarakan, dipertimbangkan, disepakati dan didukung oleh para Suster se-Kongregasi.
Bagaimana hal itu dapat dipraktekkan secara kongkret? Tidak ada jawaban jelas yang berlaku bagi semua komunitas di setiap waktu. Setiap komunitas, digerakkan oleh pemimpinnya dan diarahkan oleh Pemimpin Kongregasi, harus melibatkan semua anggotanya untuk bersama-sama mencari jawabannya Jawaban itu harus tiap kali ditinjau kembali dan disesuaikan dengan situasi yang selalu berubah-ubah. Begitulah impian yang dapat saya sumbangkan
|