spread the world be a dominican

Yayasan Santo Dominikus Cabang Yogyakarta

Jl.Melati Wetan No 53
Yogyakarta INDONESIA
Phone 0274 561217

 
Awal arrow Rm. Robini OP
BERANI PERCAYA DAN TIDAK TERIKAT PADA KEMAPANAN

Ketika pada tahun 1931 para Suster OP Belanda ke Indonesia untuk memulai misinya menanamkan benih komunitas Suster OP, mereka datang dengan dua keyakinan :


1. Kehadiran OP di Indonesia memang diperlukan ( ada surat undangan Uskup Purwokerto dan Bandung waktu itu )


2. Dan OP bisa menyumbangkan sesuatu sesuatu bagi Hindia Belanda. Kenyataannya sekarang bagaimana?

Buah-buahnya memang banyak. Lihat saja banyak sekolah yang diasuh oleh para Suster dengan sederetan alumni yang boleh dikatakan " jadi orang ". Ini dimulai dari Cimahi, Wonosari, Cirebon, Purwokerto dan sekarang dengan Flores. Kalau orang berobat ke Purwokerto, mereka ingat RS Elisabeth. Ada perkembangan dibandingkan ketika datang 75 tahun yang lalu mulai dengan Purwokerto dan akhirnya ke Cimahi. Jumlah para Suster pun pasti bertambah.

Di lain pihak ada sentilan dari Suster ( yang tidak perlu saya sebutkan namanya dan kongregasi mana ) tentang lemahnya Suster OP Indonesia dari segi SDM. Betulkah itu? Jawabannya harus dijawab oleh para suster sendiri. Namun sebagai "orang dalam" saya akan menjawab TIDAK. Mengapa? Karena saya banyak bergaul dengan para suster juga, dan banyak yang saya kenal masih muda.

Mereka adalah orang berpotensi dan punya hasrat untuk maju. Namun mengapa kesannya demikian dilihat orang dari luar? Kalau saya disuruh menjawab, saya akan mengatakan ada dua hal yang menyebabkan keadaan demikian dilihat orang dari luar.
Pertama, ketidakberanian untuk menyekolahkan para suster muda yang berpotensi dan ingin maju. Alasan keuangan? Saya kira tidak.

dominikus

Bukankah kesempatan beasiswa, dengan kontak internasional, semakin terbuka? Mungkin alasannya sederhana " mau mencari mereka yang berpotensi sekaligus sempurna! Alasan klasik yang sering dipakai adalah demikian: kalau suster A " tidak perfect" nanti ketika kuliah di luar negeri, suster A akan tergoda dan keluar. Alasan mendalam adalah ini : kita sudah banyak " invest" keuangan dan harapan akan suster A. Kalau dia tidak kembali, maka kita rugi dong. Well, ada benar dan tidak. Kebenarannya adalah demikian : memang betul bahwa ketika kita mau menyekolahkan seorang anggota demi SDM Ordo, kita meageluarkan uang yang tidak kecil (tentu dengan harapan yang besar pula )

Namun setelah itu dia keluar, kita merasa ada sesuatu yang terbuang percuma, bahkan harapan yang hilang. Yang ada hanyalah kekecewaan! Namun ada tidak benarnya pula.Kita harus percaya sama saudara / i kita bahwa tidak ada manusia atau suster / pastor yang sempurna. Calon yang akan kita kirim bagaimanapun juga tidak sempurna. Tetapi kita hanya takut akan kelemahan orang dan mencari yang " sempurna " maka kita tidak akan menemukan seorangpun.

Kita ingat bagaimana St. Dominikus berani percaya pada saudara / i nya dan mengirim novis untuk berkotbah.

 
Namun itu adalah hasil kepercayan yang diberikan St. Dominikus kepada saudaranya. Dia berani memberikan haknya ( dan bahkan nasibnya ) sebagai pendiri di tangan saudaranya karena dia percaya. Bukankah ketika kita mengucapkan kaul, kita meletakkan tangan kita di tangan pimpinan yang mewakili komunitas ( Ordo ) sebagai lambang kita menyerahkan diri kepada komunitas. Kita percaya kepada komunitas.

Tetapi di lain pihak, komunitas berani juga percaya kepada kita. Hidup sebagai Dominikan adalah berdasarkan kepercayaan kepada sesama saudara / i. Kalau kpercayaan itu hilang, maka komunitas itu akan hancur ( ekstrem tentunya ) atau tidak berkembang. Yang ada hanyalah yang tua : yang tua takut regenerasi pada yang muda (tidak percaya ), dan yang muda tidak semangat dan melihat yang tua sebagai penghalang untuk maju. Kita harus berani percaya kalau mau maju dan berkembang, ini bukan asal teori, tetapi kepercayaan St. Dominikus kepada kita agar Ordo dan keluarga besarnya tetap maju menanggapi jaman.

Alasan kedua adalah terlalu terikat kepada karya yang sudah ada. Hal yang paling susah adalah kita terikat kepada karya yang sudah mapan dan ada. Maka ketika harus melepaskan seorang anggota untuk studi, alasan klasik adalah : kurang tenaga! Namun hal ini bisa diatasi dengan beberapa hal.

1. Kita tentu sadar bahwa setiap jaman membutuhkan tanggapan baru. Hanya karena itu kita berkembang dan sungguh mengabdi kepada Gereja. Kalau pada saat tertentu Gereja membutuhkan pelayan dengan kualifikasi baru untuk tugas baru, siapa kita kalau akan menolak, padahal kita ada karena ingin mengabdi kepada Gereja.

Senang atau tidak ada karya yang di tahun 1931 sungguh berarti, tetapi di tahun 2005 tidak akan ada artinya lagi dipertahankan-Alasannya : Mungkin situasi yang baru (2005), 75 tahun kemudian tidaklah menuntut lagi. Atau ditahun 1931 belum ada yang memulai dan sekarang sudah ada yang bisa menggantikan. Mengapa harus kita tetap pertahankan padahal banyak awam yang jauh lebih mampu dan bisa? Bapak Dominikus menemukan bentuk baru hidup religius karena berani memulai sesuatu yang baru dan meninggalkan bentuk lama. Ini sebuah inovasi jenius plus keberanian untuk menanggapi jaman baru.

Surat Master Jenderal yang terakhir sangatlah penting untuk direnungkan. Judul surat itu " Ittinerancy." Ini sebuah kata yang sulit untuk diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Artinya demikian : Kita harus berani untuk selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam segala hal demi menanggapi kebutuhan Gereja. Injil yang tepat untuk melukiskan ini adalah ( Luk 10 ), yang dipakai pegangan oleh Bapak kita Dominikus Dia berpindah-pindah terus tanpa apa-apa, seperti para rasul yang diutus kemana-mana. Disini intinya : tidak ada keterikatan dan berani untuk ketempat dimana orang mungkin belum atau takut memulai ( karena tidak biasa atau familiar ), namun ini kebutuhan real Gereja. Dan bagi kita pewarta, hal ini haruslah lebih gampang karena mendikantes yaitu tidak memiliki apa-apa yang harus dipertahankan.

2. Kalaupun sebuah karya memang sungguh dibutuhkan Gereja dan kita sadar bahwa dibutuhkan tenaga, namun itu tidak berarti kita tidak bisa mengirim orang untuk sekolah. Sebuah karya yang sudah diputuskan diterima komunitas adalah tanggung jawab bersama sebagai komunitas. Kadangkala ada yang harus menanggung lebih banyak dahulu demi sesuatu yang baik untuk komunitas. Studi adalah suatu investasi SDM. Selama belum ada yang untuk menambah kekuatan, demi studi yang penting untuk mengembangkan karya yang ada, maka mereka yang de fakto tinggal harus berani menanggung lebih bayak. Ini dilakukan demi masa depan! Kalau tidak ada yang mau berkorban, maka Ordo tidak akan mempunyai tenaga yang handal untuk menjawab masa depan Gereja. Bukankah mereka studi juga melakukannya demi komunitas dan karya yang ada? Kalau dirasa karya yang ada penting ( atau maha penting ! ) maka kebutuhan untuk SDM yang baik pasti lebih terasa, bukannya malah berkurang! Bagaimana kita akan memberi kepada orang apa yang tidak kita punya ( contemplari et contemplate aliis tradere )?


Tulisan refleksi saya ini bukannya mau menjatuhkan para saudari yang bekerja setengah mati untuk yang terbaik bagi Ordo. Saya pribadi tetap bangga kepada saudara / i yang bagaikan ibu melahirkan kami yang putera sebagai saudara kalian semua. Ini adalah refleksi justru karena saya percaya kepada saudari. Banyak saudara-saudari yang muda, berpotensi, ingin maju, bukan karena kepentingan atau alasan pribadi, mau mengabdikan diri kepada Ordo dan Gereja dengan menanggapi situasi yang baru. Merekalah harapan dan kebanggan kita. Kita harus mendukung niat baik mereka dengan sebuah visi atas dasar semangat dan teladan Bapak Dominikus : berani percaya dan tidak terikat pada apa yang sudah mapan.

Ketika menulis refleksi ini saya berada di Roma, Santa Sabina ( rumah induk Ordo kita ). Di situ ada sebuah kapel dan Gereja yang menurut sejarah dan tradisi merupakan kamar St. Dominikus dan Gereja, St.Dominikus berdoa siang dan malam sampai pada suatu hari ada sebuah batu besar jatuh dan memecahkan lantai tersebut. Dalam suasana syukur atas kesempatan yang boleh saya punyai pada awal Imamatku bahwa saya bisa melihat secara kongret tempat dimana Bapak Pendiri pernah hidup dan berkarya, saya mempunyai sebuah refleksi sebagai penutup.

Kita tidak tahu secara histories apa yang ada dibenak St. Dominikus ketika berdoa siang dan malam. Yang kita tahu adalah beberapa kisah yang mengatakan dia sering berdoa sambil berteriak karena belas kasih: " YaTuhan.... Apa jadinya nasib para pendosa !” Hatinya tergerak oleh situasi jamannya. Dia adalah manusia bagi sesamanya. Karena keadaan Gereja dan kebutuhan Gereja, Bapak kita berani melangkah maju mendirikan Ordo. Pada waktu itu cukup revolusioner dan dipertanyakan, namun lihatlah, hampir 800 tahun sudah berlalu, dan Ordo sudah besar dan bahkan terkenal. Hati yang peka, kepercayaan kepada Tuhan dan saudara, mendorong dia mendirikan Ordo untuk menanggapi kebutuhan Gereja.

Sambil berlutut ditempat yang sama dan mempersembahkan misa dikamar pribadinya, saya selalu mengingat para Suster OP di Indonesia. Doaku dan harapanku adalah demikian: semoga kita semua berani seperti St. Dominikus untuk menanggapi kebutuhan Gereja Indonesia ( bahkan masyarakat Indonesia ), semangatnya : berani percaya, berharap dan tidak terikat kepada karya yang mapan. Namun keterbukaan itu hanya bisa kalau orang mempunyai wawasan yang luas.

Wawasan yang luas hanya bisa melalui kontemplasi, dimana satu elemennya adalah STUDI. 

 

P.Johanes Robini Martanto, OP

 
Sekilas Tentang Santo Dominikus

Ordo Dominikan didirikan oleh St.Dominikus, dengan tujuan untuk :

  1. Pewartaan - OP
  2. Keselamatan Umat Manusia

"Celakalah aku jika tidak mewartakan sabda Allah"

Kata kata Paulus yang dipegang dan dihidupi oleh St.Dominikus. 

Beberapa anggota Dominikan yang menjadi penyalur Rahmat Allah

  1. St.Dominikus 
  2. St.Thomas Aquinas
  3. St. Albertus Angung
  4. St. Pius V
  5. St. Martinus de Porres
  6. St. Katarina Siena
  7. St. Rosa de Lima 
Read more...
 
SD Kanisius Baciro

SD Kanisius Baciro berdiri 1Januari 1970 dengan nomer Akte 765A/INS/Sub.1970 yang  terletak Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.
Pada tahun 1993 SD Kanisius Baciro II, mulai tahun 2005 SD Kanisius Baciro I,II dengan nama SD Kanisius Baciro.

Read more...
 
SMP Pangudi Luhur 2

Penyelengara sekolah ini diawali bekerjasama dengan Bruder-bruder FIC pada tahun 1966. Awalnya bernama SMP Katamso Gendeng. Dipilihnya nama itu untuk mengenang Brigjend.Katamso, seorang pahlawan revolusi yang berjasa besar dalam membantu karya para suster dari rintangan kaum komunis menjelang G30 S PKI

Read more...
 
SMU Dominikus Wonosari
Berdiri tahun 1989/1990 adalah sekolah alih fungsi dari SPG SANJAYA Wonosari yang dahulu berdiri tahun 1968 yang mulai dikelola oleh suster Suster Santo Dominikus memalui Yayasan Santo Dominikus sejak tahun 1980
Read more...
 
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
KWI

Keuskupan Agung Semarang

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini14
mod_vvisit_counterTotal39992