Tahun 1953 berdirinya rumah BIARA PERTAPAAN ST. MARIA RAWASENENG. Letak daerah: di pedesaan perbukitan Rawaseneng Temanggung daerah terpencil dan susah dicapai. Pelayanan komunitas Pertapaan pada:
- Masyarakat setempat berupa bantuan memberi lapangan kerja bagi karyawan.
- Bimbingan rohani.
- Pelayanan khusus sewaktu-waktu, meratakan tanah pegunungan menggunakan traktor.
- Mencari sumber air
- Karya sosial
- Pelayanan orang sakit ( Balai Pengobatan ).
Pelayanan orang sakit ditangani oleh Rm. Nicasius, OCSO. Pada waktu itu pemerintah belum menyediakan pelayanan medis sama sekali. Setiap hari puluhan pasien dari desa sekitar maupun dari desa yang lebih jauh datang ke pertapaan untuk berobat pada Rm. Nicasius. Semakin hari pelayanan orang sakit semakin banyak sehingga menyita waktu Romo sampai siang hari bahkan sekitar Pertapaan semakin ramai ( Pertapaan membutuhkan suasana tenang ). Untuk menghindari suasana ramai itu, dibuatkan rumah kecil dikhususkan untuk pelayanan orang sakit. Ditambah juga tenaga awam seorang putri sebagai asisten perawat.
Lama kelamaan disadari bahwa dengan suasana ramai dan tanpa batas waktu pelayanan BP yang disumbangkan komunitas Pertapaan untuk masyarakat tidak sesuai dengan spiritualitas ORDO. Maka Rm.Bavo.OCSO berusaha mencari Kongregasi Suster untuk membuka cabang di Rawaseneng mengambil alih BP yang sudah dimulainya. Namun usaha Rm. Bavo.OCSO mengalami kesulitan, karena biasanya biara - biara didirikan di kota - kota ramai. Bila ada biara yang bersedia hadir di daerah tersebut, dibutuhkan keberanian melawan arus.
KEGIATAN KONGREGASI SUSTER-SUSTER ST. DOMINIKUS DI RAWASENENG | Dalam perjalanan yang cukup panjang, segala cara telah ditempuhnya untuk memperoleh hasil. Namun kesulitan demi kesulitan diterima dengan penuh kesabaran dan kepasrahan pada kehendak Tuhan. Pada akhirnya Tuhan mendengarkan dan mengabulkan permohonan hambaNya, usaha Rm. Bavo OCSO tidak sia - sia. Tahun 1962 atas permintaan Rm. Bavo OCSO kepada Kongregasi Suster - suster St. Dominikus (OP) di Cimahi supaya Kongregasi membuka cabang di Rawaseneng di setujui. Sr. Thomasine, OP sebagai Pemimpin Misi, mengutus dua orang Suster OP yaitu Sr. Beata, OP dan Sr. Bernadette, OP. Mula - mula para Suster tinggal di pabrik kopi milik pertapaan. Dengan kedatangan para Suster OP di Rawaseneng, BP dilepaskan dari tanggung jawab pertapaan dan diterima oleh Kongregasi. |  |
Penanggungjawab BP diserahkan kepada Sr. Beata, OP. Tempat pelayanan orang sakit Masih di Pertapaan ( sekarang kamar tamu). Selain pengobatan di tempat yang disediakan, setiap hari Senin dan Kamis Sr. Beata OP dan Sr. Bernadette OP ikut Rm. Silvester OCSO yang dengan UNIMOG nya mengambil rumput. Sr. Beata OP memberi pelayanan pengobatan bagi mereka yang tidak dapat datang, dan Sr,. bernadette OP pelayanan Pastoral ( mengajar agama ). Dalam perjalanan pelayanan kepada orang sakit, Kongregasi membangun gedung semacam sekolah untuk tinggal para Suster. Setelah gedung baru selesai di bangun, bulan Maret 1963 para Suster pindah dari pabrik kopi ke gedung yang baru. Gedung digunakan :
- sebagian untuk balai pengobatan
- sebagian untuk tempat tinggal para Suster dan kapel
- sebagian untuk asrama
Tanggal 13 Mei 1963 gedung diberkati oleh Rm. Frans Harjawiyata OCSO. BALAI PENGOBATAN diberi nama BALAI PENGOBATAN FATIMA. Tanggal 22 Juli 1963 datang dua Suster yaitu Sr. Xaveria, OP dan Sr. Gerarda, OP. Dengan kedatangan dua Suster suasana berubah. Pelayanan dilaksanakan dengan berjalan kaki pagi berangkat jam 06.00 dan pulang jam 18.00. Sr. Bernadette OP tidak lagi berpastoral ke kampung - kampung yang jauh, namun berpastoral di komunitas kepada orang miskin dan kecil di masyarakat sekitarnya.: - Pelayanan kepada masyarakat sekitar antara lain
- Pendekatan kepada anak – anak kecil yang setiap hari ikut ibunya bekerja di pabrik kopi milik pertapaan. Anak - anak dikumpulkan : di latih mandi bersih (dimandikan). Diberi makan, dididik sopan santun dan diperlihatkan gambar - gambar sebagai sarana pendidikan usia anak Sapaan kepada orang tuanya, kepada karyawan dan juga kunjungan kepada masyarakat sekitar.
Pelayanan di Komunitas TK FATIMA Keramahan dan kasih dari para Suster, membuat orang tua percaya akan pendidikan para Suster, dan membuat anak anak menjadi senang, kerasan bersama Suster. Melihat anak - anak usia pra sekolah yang sangat memprihatinkan dan hasil pendekatan pada anak - anak, para Suster tergerak untuk mendirikan sekolah TAMAN KANAK - KANAK. Walaupun di desa sekolah sudah ada, namun mutu sangat rendah. Maka dimulailah karya pendidikan TK oleh Kongregasi SUSTER ST. DOMINIKUS di Rawaseneng. Tanggung jawab TK diserahkan kepada Sr. Imelda, OP dan dibantu oleh seorang ibu guru bantu. Tempat untuk kegiatan belajar mengajar TK di sebagian gedung yang sudah ada dengan diberi nama "TK FATIMA". Anak - anak TK mendapat perhatian dari BP FATIMA dengan memberikan gizi dan pemeriksaan kesehatan.
Tujuan kegiatan TK FATIMAH supaya : - Anak - anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat.
- Menjadi cerdas.
- Bisa bermain dan berteman.
SD FATIMA Untuk mencapai jenjang pendidkan selanjutnya ( TK ke SD ), Kongregasi mengutus Sr. Angelina, OP menangani SD dibantu tenaga para guru dari Magelang. Tanggal. 2 Agustus 1964 YAYASAN FATIMA mendirikan SD di Rawaseneng diberi “ SD FATIMA.” Pada waktu itu SD Fatima merupakan satu - satunya sekolah di Rawaseneng. Murid -murid semakin banyak, mereka berdatangan dari desa -desa Cantel, Setro, Blimbing, Ngasinan, Banjarsari, Tuk Bandung, Sumenggo, Krengseng. Karena kondisi ekonomi di RawAseneng sangat sulit, bantuan komunitas OP berupa: - Pengobatan gratis, pada umumnya bila ada yang membayar, membayar dengan hasil kebun.
- SPP sangat rendah, bahkan tidak sedikit murid yang bebas SPP.
USAHA KOMUNITAS MENGATASI KESULITAN EKONOMI : Mengingat kesulitan ekonomi timbul pertanyaan, anak - anak lulusan SD FATIMA akan dikemanakan? Melanjutkan SMP dimana? Komunitas mengusahakan agar : - Sekolah mendapat subsidi dari YAYASAN PUSAT
- Mendapat bantuan dari pertapaan
- Bantuan dari para donatur
Usaha dari para Suster dengan menjual : kue buatan sendiri, hasil kebun, peternakan, usaha kantin. Berkat petolongan Tuhan usaha para Suster berhasil. Banyak anak - anak lulusan SD tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP. Tahun 1975 Kongregasi membuka kursus: Pertukangan, peternakan, perkebunan diperuntukkan bagi anak laki - laki. Ketrampilan : jahit - menjahit, memasak diperuntukkan bagi anak perempuan
Tujuan membuka kursus: Anak -anak dipersiapkan untuk mengerjakan pekerjaan yang memperoleh hasil untuk hidup. Melatih anak mandiri Dengan bertambahnya pelayanan pada masyarakat, maka Kongregasi menambah anggota Biara. Dengan demikian tempat tinggal para Suster perlu diperluas. Tahun 1975 Kongregasi membangun Biara baru yang disertai kapel. Dengan bantuan Kongregasi induk KONGREGASI Dl NEGERI BELANDA DOMINIKUS DARI KELUARGA KUDUS. Setelah para Suster menempati biara baru, bangunan lama tidak ditinggal begitu saja tetapi dialih fungsikan untuk karya Poliklinik, kantin, penginapan para tamu. Secara sebulan sekali BP FATIMA mengadakan; - penambahan gizi untuk BALITA
- pengobatan bagi orang orang jompo dan miskin
- kegiatan rohani bagi yang jompo
MENGIKUTI PERKEMBANGAN JAMAN Dengan perkembangan jaman, anak - anak tidak lagi berminat mengikuti kursus ketrampilan yang sudah diusahakan komunitas, namun meskipun kesulitan ekonomi anak - anak tetap melanjutkan jenjang pendidikan SMP di kota. Biaya tidak lepas dari bantuan Suster maupun Pertapaan. ( biaya masih tetap minta). KARYA SOS1AL Disamping karya yang sudah disebut di atas, ada karya sosial lain yang dlaksanakan kominitas Rawaseneng antara lain : - Bantuan pada orang miskin dan orang jompo.
- Bantuan beasiswa anak karyawan komunitas.
Sumber dana komunitas diperoleh dari:
- YAYASAN PENDIDIKAN
- Bantuan dari balai pengobatan
- Sumbangan dari Pertapaan
- Para donatur yang tidak tetap
- Beasiswa dari YAYASAN REALINO.
Demikian riwayat hidup komunitas OP di Biara Rawaseneng. Anggota komunitas Rawaseneng 2005 - Sr. Petra, OP
- Sr. Xaveria, OP
- Sr. Catharina, OP
- Sr. Thomasine, OP
- Sr, Yoseptha, OP.
|