|
Dalam rangka Yubileum 75 tahun kehadiran para Suster OP di Indonesia, saya berminat membidik kehidupan mereka dari sudut spiritualitas dan bukan soal aktifitas dan karya-karya mereka. Muncul pertanyaan dari dalam diri saya mengenai “ Vita Mixta “ atau hidup campur dalam satu ordo Dominikan. Hal ini tidak berkaitan langsung dengan St Dominikus tetapi lebih berkaitan dengan ordo Dominikan dan Spiritualitas Dominikan. Apakah Vita Mixta dalam ordo Dominikan bersifat transisi atau merupakan spiritualitas yang bersifat fundamental ? Menurut sejarahnya, Saat St. Dominikus di Osma, ia hidup dengan komunitas Agustian dan terikat dengan hidup monastik.  | Kemudian ia keluar dari kerangka itu dan mulai mewartakan dengan tetap mempertahankan hidup monastik Sebenarnya apa yang dikehendaki St.Dominikus dengan Vita Mixta ? Jika Vita Mixta merupakan spiritualalitas Dominikan yang merupakan pengejawantahan kharisma St Dominikus, lalu apa arti dan fungsi monastik ? Dengan kata lain apa yang dibuat dengan hidup monastik dalam ordo yang apostolik ini ? Tetapi jika Vita Mixta merupakan peralihan, maka cepat atau lambat sifat monastik akan hilang bersamaan dengan pergantian dan perubahan zaman.Istilah Vita Mixta berasal dari St. Thomas Aquinas, namun praktek “ hidup campur “ ini dimulai oleh St Dominkus, saya ingin menempatkan St Dominikus ke dalam dua trend besar dalam Gereja, yaitu pada zaman St Benediktus dan St Ignatius. Benediktus menekankan hidup monastik tanpa kerasulan, sementara Ignatius kebalikannya, kerasulan tanpa monastik. Dalam konteks dua trend zaman ini, |
St Dominikus berperan sebagai peralihan. Dominikuslah yang memulai hidup membiara dengan kerasulan dan tetap mempertahankan hidup monastik, baru kemudian di ikuti oleh Fransiskus. Dengan demikian Dominikus memberikan sumbangan yang sangat besar kepada Gereja. Pada masa Neo-Skolastik dan Thomistik, Ordo Dominikan berjasa besar memasukan semua kegiatan dan karya ordo ke dalam biara, terutama teologi dan katakese. Hingga abad 18 ordo Dominikan membatasi kerasulannya pada studi, tidak mengherankan bahwa para Dominikan unggul dalam teologi, banyak teolog-teolog sampai abad 18 adalah para Dominikan. Namun demikian, secara kwantitatif anggota ordo Dominikan di seluruh dunia tidak pernah menjadi besar, paling banyak berjumlah sekitar 7.000 orang. Hal ini disebabkan karena kerasulan Dominikan membatasi diri pada studi dan ini dirasakan cukup berat. Mulai abad 19 hingga abad 20 ini, kerasulan ordo tersebar dimana-mana, diluar biara, dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial. Albert Nolan OP adalah tokoh yang sangat aktif dalam gerakan-gerakan sosial tidak nampak lagi kerangka monastik dalam ordo ini. Bahkan ketika saya menanyakan hal ini kepada Fr. Rolf OP dari Canada, Beliau berkomentar bahwa hidup monastik dalam ordo sudah hilang, apakah ini yang dimaksud dengan penyesuaian zaman ? Dalam kapitel dan dokomen-dokumen ordo pada abad ini, selalu dibicarakan tentang kerasulan, khususnya kerasulan sosial. Saya pribadi tidak mempersoalkan tentang kerasulan Dominikan, tetapi apa yang terjadi dengan sifat monastik dalam spiritualiats Dominikan? Saya menemukam jawaban bukan pada St Dominikus, tetapi pada para Grantmont dan premonstran. Adapun asal mula monastik diambil dari kehidupan para Grantmont atau Sisterciensis dimana setiap biara independen dengan peraturan ketat. Sedangkan regula St Agustinus berbicara soal hidup bersama dan bukan soal hidup monastik. Hidup monastik berarti mati raga, observansi atau hidup menurut peraturan. St Dominikus mempertahankan monastik untuk ordonya karena ia memiliki motivasi mati raga dan hidup menurut peraturan bagi ordonya. Yang menjadi unsur kebiaraan bukanlah pertama-tama hidup bersama, tetapi mati raga, karena ia ingin ordonya mewartakan dalam kemiskinan. Ketika saya berjumpa dengan Fr.Scellebeeck OP dan bertanya soal ini, Beliau menjawab bahwa bagi Dominikan yang pokok adalah pewartaan dan bukan hidup monastik, dengan demikian monastik merupakan transisi dan bukan hal yang hakiki dalam ordo. Bagi ordo ke III, seperti para Suster OP di Indonesia, tidaklah terlalu terikat dengan peraturan monastik, karena yang terpenting adalah mencari bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman, demikian pandangan Sr Agnes OP. Bagi St Dominikus, monastik yang ia pertahankan bukan dimaksudkan sebagai peralihan yang bersifat sementara, karena ia tidak tahu apa yang bakal terjadi di kemudian hari. Bagi saya, sebagai peneliti Sejarah Hidup Membiara, pertanyaan tersebut di atas masih merupakan teka-teki besar yang belum terjawab.
Tujuh puluh lima tahun yang lalu ketika Mgr Visser, MSC mengundang Kongregasi Suster-Suster Dominikus dari Keluarga Kudus untuk memulai karya misi di Indonesia, sama sekali tidak terpikirkan soal spiritualitas Dominikan dan sumbangan bagi Gereja Indonesia. Beliau mengundang terutama untuk berkarya di wilayahnya yaitu karya sekolah, rumah sakit dan asrama. Saat itu belum ada yang peduli tentang spiritualitas Dominikan. Spiritualitas lebih difahami sebagai hidup teratur dengan tekanan pada ketaatan yang tidak wajar. Pada umumnya biara-biara yang didirikan pada abad 19 sangat dipengaruhi oleh Jesuit yaitu bahwa ketaatan dan kerasulan amat penting. Demikian pula yang dialami Kongregasi Suster-Suster St. Dominikus dari Keluarga Kudus di Neerbosch. Baru ketika Konsili Vatikan II yaitu pada tahun 1962-1965, terjadi banyak perubahan. Dalam dokumen Perfectae Caritatis dihimbau agar semua Kongregasi kembali kepada spiritualitasnya sendiri-sendiri.
Empat puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1966-1967 mulailah pencarian dan penggalian spiritualitas Dominikan. Sr Agnes OP dan saya mencari informasi-informasi tentang spiritualitas Dominikan dengan membaca banyak sumber. Buku pertama yang kami baca adalah buku Dominikan dari Belgie. Meski demikian, tidaklah mudah menghidupkan spiritualitas lewat penghayatan hidup sehari-hari, terlebih adanya kesulitan kekurangan tenaga potensial dan suasana tidak kondusif untuk studi. Yang saya maksud adalah studi teologi dan spiritulitas yang merupakan kekhasan Dominikan. Yang terjadi dalam Kongregasi hingga kini adalah para Suster diutus studi tetapi lebih untuk mempersiapkan karya, studi untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Padahal yang merupakan “ Basic Formation Dominikan “ adalah studi teologi dan kateketik, ini tidak bisa ditawar-tawar lagi ! Mengapa tidak terjadi “ Gerakan “ bersama seluruh Kongregasi dalam hal studi Kitab Suci dan Spiritualitas ? Dengan di bukanya komunitas-komunitas kecil pada akhir-akhir ini, terkesan bahwa perhatian Kongregasi lebih pada karya karitatif belaka.
Saya cemas dengan Gereja Indonesia sekarang ini. Sebagai contoh, banyak orang datang ke Gereja Kotabaru , tetapi mereka datang untuk apa ? Bukankah karena mereka merasa tidak mendapat apa-apa dari Gereja Paroki dimana mereka tinggal ? Dengan kata lain Gereja belum bisa membaca dan menjawab kebutuhan umat, Gereja tidak mampu memberi semangat, Gereja hanya melayani upacara sakramental yang bersifat rutin belaka. Gereja membutuhkan “ perapian “ dan perapian ini dimulai dari para religius. Harapan saya adalah hendaklah kita memiliki antusiasme. Gereja Indonesia bisa mati karena intitusionalisme.
Jika harapan tersebut saya rumuskan sebagai cita-cita, maka cita-cita saya adalah “ Saya mau menjadi Yesuit di Indonesia “ Demikian pula harapan saya kepada Kongregasi Suster-Suster St. Dominikus ini, hendaklah memiliki satu cita-cita yang sama yaitu “ Aku mau menjadi Dominikanes Indonesia “ yang memiliki antusiasme, keprihatinan, kecemasan dan aktif terlibat dalam gerak Kongregasi dan Gereja. Berani menjalankan tugas biarpun berat karena inilah mati raga Dominikan.
|