spread the world be a dominican

Yayasan Santo Dominikus Cabang Yogyakarta

Jl.Melati Wetan No 53
Yogyakarta INDONESIA
Phone 0274 561217

 
Awal arrow Komunitas Larantuka
Sejarah Komunitas Larantuka

Sekitar Tahun 1982 Mgr, Darius Nggawa, SVD, Uskup Larantuka - Flores Timur, mengadakan pembicaraan dengan Sr. Agnes OP sebagai Pemimpin Umum Tarekat Suster - Suster St Dominikus di Indonesia. Pertemuan tersebut dimaksudkan sebagai penjajakan awal adanya kemungkinan Tarekat Suster-Suster Dominikus (OP) berkarya di Keuskupan Larantuka. Dalam kesempatan itu Mgr. Darius mengungkapkan bahwa di Diosis yang dipimpinnya, yang terletak dibagian Timur Pulau Flores, baru ada beberapa suster yang berkarya dibidang Pastoral, dan itupun baru satu Paroki yang dilayani. Para suster yang berkarya tersebut tersebar di beberapa Stasi yang letaknya saling berjauhan antara satu Stasi dengan Stasi yang lainnya. Oleh karena itu, Mgr. Darius mengharapkan Tarekat para Suster OP dapat berkarya di Keuskupan ini.

Mengingat sejarah panjang para Imam Dominikan yang berkarya di tanah Flores, khususnya di Flores Timur, yang saat itu mencakup Flores daratan, Adonara, Solor dan Lembata, maka gayung pun bersambut. Atas nama Tarekat, Sr. Agnes, OP menyambut baik tawaran itu. Lokasi awal yang di tawarkan adalah di Paroki Waiklibang, Tanjung Bunga. Dalam kesempatan itu pula, Mgr. Darius berjanji akan menyerahkan sebidang tanah yang luasnya 5,5 hektar di Tanjung Bunga, yang jaraknya kira-kira 30 Km dari Larantuka. Singkat kata, Tarekat menerima tawaran baik tersebut. Meskipun demikian, proses peralihan tanah itu kepada Tarekat belum terlaksana sampai sekarang.santo dominikus

 Tidak diketahui secara jelas prosesnya, tindak lanjut dari kcrja sama itu sempat terhenti sekian waktu. Hingga sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1992 NTT dilanda bencana alam yang dasyat yaitu gelombang Tsunami yang meluluhlantakkan daerah pesisir Flores, termasuk wilayah Flores Timur

santo dominikus
Wilayah Tanjung Bunga dan sekitarnyapun tak luput dari amukan gelombang Tsunami tersebut. Demikian halnya, Waiklibang menjadi porak poranda, hampir seluruh bangunan gereja dan kapel hancur, termasuk Gereja Paroki Waiklibangpun rata dengan tanah. Gempa tersebut banyak menimbulkan korban baik nyawa maupun harta benda pada penduduk Tanjung Bunga  dan daerah sekitarnya. Di sepanjang daerah pesisir, nampak suatu pemandangan yang memilukan, mayat-mayat manusia dan hewan ternak bergelimpangan, banyak rumah warga yang roboh, sebagian lahan pertanian hancur, jalan penghubung terputus. Pendek kata, daerah pantai yang dulunya indah kini nampak memilukan. Beberapa waktu kemudian setelah bencana mereda,

 

Sr Agnes OP bersama dengan beberapa suster berangkat ke Flores Timur untuk meninjau wilayah yang terkena bencana, khususnya di Paroki Waiklibang. Apa yang dilihat oleh para Suster tidak jauh berbeda dengan apa yang telah ditulis di atas. Meski sebagian wilayah di mana kita akan berkarya terkena bencana, namun langkah takkan pernah surut. Panggilan karya untuk melayani di wilayah Keuskupan Larantuka, khususnya di Paroki Waiklibang, Tanjung Bungga terus menggema. Bagaimanapun juga, rencana dan kehendak kuat kita untuk berkarya di wilayah ini semakin mengobarkan semangat untuk segara mewujudkan cita-cita luhur Tarekat berkarya melayani umat di ujung Timur Keuskupan Larantuka ini, mengikuti jejak para Dominikan terdahulu.
 santo dominikus


DATANG  DAN  LIHATLAH                                                       

santo dominikus
Akhirnya, saat bersejarahpun tiba. Pada tanggal 5 Juni, 1997, bertempat di Rumah Induk Biara St. Maria, Cimahi, Bandung, secara khusus Tarekat merayakan Ekaristi Perutusan yang dipimpin oleh Mgr. Djajasiwaja, Pr. yang dihadiri seluruh anggota Komunitas Cimahi dan secara istimewa oleh keempat suster misionaris, yaitu Sr. Anggelica, OP, Sr. Marcelin, OP, Sr. Gratia, OP dan menyusul kemudian Sr. Thomasine, OP. Kemudian, pada tanggal 19 Juni 1997, dengan menumpang Kapal Laut Dobon Solo keempat suster itu menuju ke tanah misi mengawali perutusan Tarekat, mewartakan kabar suka cita Sang Kebenaran Sejati. Perjalanan menuju tanah perutusan berawal dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, melewati Surabaya, Ujung Pandang (Makasar), Kupang dan akhirnya berlabuh di Dermaga Larantuka.

 

Untuk pertama kalinya para Suster Misionaris kita menginjakkan kaki di bumi Flores Timur. Di Pelabuhan telah menunggu Rm Mikael OCSO, dari Pertapaan Lamanabi, Rm John Bulet Rean, Pr dari Paroki Waikfibang, dan Rm Dwijo, MSF, dari Paroki Lewolaga. Kemudian kami bersama-sama menuju suatu rumah di Kotasao, Larantuka yang ternyata telah dipersiapkan oleh Tarekat sejak tanggal 30 April 1997. Rumah di Kotasao inilah yang akhirnya menjadi Biara bagi para Suster yang berkarya di Keuskupan Larantuka.


Perasaana cemas, gelisah, jenuh, dan letih selama perjalanan berganti dengan kelegaan, syukur dan suka cita saat para suster masuk ke rumah Komunitas. Ada pengharapan bahwa rumah ini bukan hanya rumah yang sekedar dihuni, melainkan rumah dimana setiap anggota yang tinggal memperoleh keleluasaan untuk menemukan dan mengekspresikan diri dalam persaudaraan hidup bersama sebagai sebuah komunitas. Sebuah komunitas yang mengkrasankan, komunitas yang dihidupi dan menghidupi oleh  Sang Kebenaran Sejati. Kini karya telah membentang di depan mata. Padi telah menguning, siap untuk dituai. Pekerja tuaianpun telah siap sedia Meskipun demikian, para suster dipenuhi dengan tanda tanya, karya model atau bentuk peiayanan macam apa yang akan dilakukan di Keuskupan ini

santo dominikusBelum ada rencana dan gambaran kongkrit serta strategi apa untuk sebuah pelayanan baru ini. Walau begitu, karya nyata terbentang di depan mata dan segera menanti uluran tangan, yaitu bersih-bersih, mengatur segala sesuatu di rumah demi kebutuhan operasional, ke depan merupakan aktivitas awal dalam perutusan panjang para Suster. Dalam suatu pertemuan penuh persaudaraan dan dalam semangat Dominikan, berhasil disepakati bahwa Sr. Angelica,OP diangkat sebagai Pemimpin Komunitas di Larantuka. Sedangkan ke tiga suster lainnya menjadi anggota Komunitas.

Sebulan kemudian, setelah pengaturan segala sesuatu di biara selesai, para suster berkunjung ke Keuskupan untuk "sowan" dan sekaligus melapor Mgr. Darius di San Dominggo, istana Keuskupan. Keempat suster diterima dengan ramah dan hangat oleh Bapak Uskup. Dalam kesempatan itu pula, Mgr. Darius menyerahkan Surat Ijin Resmi/Surat Keputusan kepada para Suster OP untuk berkarya di Tanjung Bunga tepatnya di Paroki Waiklibang. Sejak awal, Mgr. Darius tidak menyebutkan secara khusus tugas atau karya apa saja yang secara khusus harus ditangani oleh para Suster OP di Paroki Waiklibang nanti. Mgr. Darius hanya menyampaikan beberapa kata pendek namun sangat mengesan dan penuh makna: "Datang dan lihatlah". Bukankah kata-kata itu mengingatkan kita akan spiritualitas St. Dominikus sendiri, yang setiap kali menuju ke suatu tempat perutusan senantiasa membawa pesan Yesus: "Mari dan kamu akan melihatnya" (Yoh. 1:39).

SALIB  ITU TELAH  TERMATERAIKAN
Keadaan Paroki Waiklibang saat itu belumlah pulih sepenuhnya dari akibat bencana alam yang terjadi pada tahun 1992. Gereja belum selesai di bangun, jalan-jalan penghubung masih nampak rusak berat, dan rumah-rumah pendudukpun masih dibangun secara darurat. Karena kondisi yang demikian itu,maka belum ada tempat yang memadai untuk ditinggali para suster. Oleh karena itu, para suster menempati rumah darurat  di Pastoran lama, yang direnovasi seadanya. Kondisi itulah yang harus dihadapi oleh para suster diawal karya mereka di Paroki Waiklibang. Baru dua tahun kemudian, pada tahun 1999 dapat dibangun suatu rumah sederhana dalam satu komplek Gereja Paroki.                                                                                                                                         
Pelayanan di Waiklibang dipercayakan kepada Sr. Gratia OP dan Sr. Marceline OP. Mereka berdua menempati rumah baru yang dibangun dekat Gereja Paroki. Dari sanalah mereka akan memulai tugas perutusan yang baru dalam karya pastoral di Paroki maupun di Sekolah. Sedangkan Sr. Angelica OP dan Sr. Thomasine OP tetap tinggal di Larantuka. Dengan demikian, kita mempunyai dua rumah biara, yaitu di Larantuka sebagai pusat komunitas, dan di Waiklibang. Data terakhir jumlah umat di Paroki Waiklibang sekitar 7000 jiwa.


Salah satu kekhasan cara hidup kita adalah hidup bersama dalam komunitas. Oleh karena itu, telah disepakati bersama bahwa setiap hari Senin diadakan acara bersama komunitas di Larantuka. Maka, para suster yang tinggal di Waiklibang pada hari Senin kembali ke Larantuka untuk mengadakan acara Komunitas bersama, seperti doa dan Ekaristi bersama, pertemuan rutin, studi bersama untuk menggali dan menimba semangat pendiri, semangat St. Dominikus, dsb. Acara komunitas tersebut sifatnya wajib untuk diikuti oleh para suster. Biasanya Selasa pagi para Suster kembali ke Waiklibang.


Suatu peristiwa yang perlu dicatat dalam buku kenangan ini adalah kisah suka duka pergulatan sang misionaris di tanah perutusan. Pada bulan Januari 1998, Sr. Marceline OP mengalami kecelakaan dalam sebuah perjalanan dari Waiklibang ke Riang Puho. Ruas jalan antara Waiklibang ke Riang Puho memang dalam kondisi rusak berat. Pada suatu jalan yang mendaki, Sr. Marceline OP agak kehilangan keseimbangan karena kondisi jalan yang berbatu. Pada saat yang sama, sebuah angkutan kota meluncur dari  arah yang berlawanan dan menyenggol Sr. Marceline OP sehingga jatuh. Kiranya musibah tidak hanya berhenti di situ, tanpa dapat diduga sebelumnya, kaki kanan Suster tergilas roda belakang angkutan kota itu sehingga luka parah, tulang kaki bagian atas remuk sama sekali. Karena lukanya sangat parah, ia harus di rawat di Rumah Sakit St Elisabeth Semarang. Kurang lebih selama satu tahun ia harus pulang balik Yogyakarta - Semarang untuk menjalani perawatan. Setelah dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit, maka oleh Tarekat, Sr. Marceline OP diperbolehkan untuk kembali ke Flores melanjutkan perutusannya.

 
Sekilas Tentang Santo Dominikus

Ordo Dominikan didirikan oleh St.Dominikus, dengan tujuan untuk :

  1. Pewartaan - OP
  2. Keselamatan Umat Manusia

"Celakalah aku jika tidak mewartakan sabda Allah"

Kata kata Paulus yang dipegang dan dihidupi oleh St.Dominikus. 

Beberapa anggota Dominikan yang menjadi penyalur Rahmat Allah

  1. St.Dominikus 
  2. St.Thomas Aquinas
  3. St. Albertus Angung
  4. St. Pius V
  5. St. Martinus de Porres
  6. St. Katarina Siena
  7. St. Rosa de Lima 
Read more...
 
SD Kanisius Baciro

SD Kanisius Baciro berdiri 1Januari 1970 dengan nomer Akte 765A/INS/Sub.1970 yang  terletak Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.
Pada tahun 1993 SD Kanisius Baciro II, mulai tahun 2005 SD Kanisius Baciro I,II dengan nama SD Kanisius Baciro.

Read more...
 
SMP Pangudi Luhur 2

Penyelengara sekolah ini diawali bekerjasama dengan Bruder-bruder FIC pada tahun 1966. Awalnya bernama SMP Katamso Gendeng. Dipilihnya nama itu untuk mengenang Brigjend.Katamso, seorang pahlawan revolusi yang berjasa besar dalam membantu karya para suster dari rintangan kaum komunis menjelang G30 S PKI

Read more...
 
SMU Dominikus Wonosari
Berdiri tahun 1989/1990 adalah sekolah alih fungsi dari SPG SANJAYA Wonosari yang dahulu berdiri tahun 1968 yang mulai dikelola oleh suster Suster Santo Dominikus memalui Yayasan Santo Dominikus sejak tahun 1980
Read more...
 
OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
KWI

Keuskupan Agung Semarang

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini29
mod_vvisit_counterTotal13736