|
Seberkas cahaya memancar dari ujung barat Keuskupan Purwokerto, perbatasan Jawa Tengah Jawa Barat, yang merindukan cinta dan kedamaian lewat kehadiran para Suster OP. Cahaya itulah yang mengundang Kongregasi lewat Bapak Uskup Purwokerto untuk membangun “ Gereja “ Majenang. Tepatnya tgl 8 Agustus 2004 diutuslah secara resmi 2 suster untuk hadir dan memberi kesaksian akan kasih Allah di tengah-tengah masyarakat yang terkenal dengan basis NU. Komunitas terbaru ini mengambil St. Dominikus sebagai pelindung biara. Adapun nama resmi komunitas ini adalah Biara St. Dominikus Majenang yang didirikan pada tgl 8 Agustus 2004.
AWAL MULA BERDIRINYA MAJENANG Bermula dari kebijakkan Bapak Uskup Julianus Sunarka, SJ untuk memperkembangkan pelayanan di wilayah keuskupannya, maka Bapak Uskup meminta dan mendesak agar Kongregasi-Kongregasi yang berada di Keuskupan Purwokerto mulai memberi perhatian dan pelayanan ke daerah-daerah pinggiran. Saat itu Bapak Uskup menawarkan kepada Kongregasi 3 tempat yaitu, daerah Kampung Laut, Majenang dan Wadas Lintang ( daerah Wonosobo ). Berdasarkan rapat Dewan Kongregasi pada bulan Februari 2004 yang dihadiri Bapak Uskup Sunarka, SJ , diputuskan bahwa akan dibuka komunitas baru dan pilihan jatuh di Majenang.
|  |
Mengapa Majenang?
| Tentunya bukan tanpa alasan, setelah napak tilas perjalanan kongregasi, maka muncul kerinduan untuk melanjutkan karya di daerah Cilacap yang menjadi cilak bakal dan tonggak sejarah kongregasi di Indonesia. Majenang merupakan salah satu stasi dari Paroki Cilacap. Transportasi tidaklah sulit untuk dijangkau karena semua kendaraan yang melewati jalur selatan selalu melewati Majenang. Dengan demikian mempermudah relasi dengan komunitas lain misal dengan komunitas Cimahi dan Purwokerto. |
SITUASI MAJENANG
Umat Katolik di stasi ini berjumlah 700 jiwa, yang tersebar di 4 substasi yaitu Mergo, Wanareja, Carwi, Karang Pucung dan di stasi pusat Majenang. Mayoritas dari mereka adalah para pendatang yang mencari nafkah dalam dunia pendidikan. Gereja Majenang bukanlah Gereja kaum muda, kaum muda disini setelah lulus SMP, mereka melanjutkan sekolah ke daerah lain, entah di Yogya, Purwokerto, Bandung dan Jakarta, mereka kadang pulang saat liburan panjang. Umat Majenang sebagian besar adalah pendatang yang berasal dari Keuskupan Agung Semarang dan Surabaya, oleh karenanya hidup menggereja sulit terlaksana jika diselenggarakan pada hari-hari libur panjang, karena sebagian besar dari mereka mudik.
|  |
DERAP LANGKAH KOMUNITAS MAJENANG Bagaikan orang buta yang berani berjalan hanya karena berbekal iman dan harapan bahwa Tuhan yang mengutus maka Tuhan pulalah yang menunjukkan arah, demikianlah langkah pertama kami mengawali hidup dan hadir di majenang. Dengan penuh sukacita menyambut tantangan yang ada dihadapan kami, kami mencari dan mencangkul lahan kerasulan sendiri.Tidak ada lembaga yang langsung memberi lahan. Belum ada karya yang jelas untuk komunitas, dengan kesabaran dan ketekunan, komunitas pelan tapi pasti mulai mencari bentuk karya kerasulan sambil mempelajari situasi Gereja setempat. Berbekal semangat dan keberanian hidup dalam ketidakpastian, belajar untuk membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar, komunitas Majenang mulai melakukan apa saja yang bisa di kerjakan. Umat mulai bergantian meminjami sepeda motor sebagai alat transportasi kunjungan dan pastoral. Umat kadang merangsum makanan untuk para suster yang memang belum memiliki lahan kerasulan. Tahun pertama komunitas memutuskan berkarya dalam bidang pastoral sambil mempelajari situasi Gereja maupun wilayah dengan harapan dapat menemukan bentuk pelayanan yang sungguh menjadi kebutuhan setempat. Sr. Anna Marie, OP masih memiliki tugas pokok di RS Elisabeth Purwokerto, praktis belum bisa konsentrasi di Majenang. Sr. Dominica OP yang lebih banyak tinggal di komunitas sendirian.
Pada tanggal 18 Desember 2004 Sr. Gabriella OP diminta Kongregasi untuk menggantikan Sr. Dominica OP yang sedang mengikuti kursus di Philipina selama 3 bulan. Sesudah Paska 2005 Sr. Gabriella OP mendapat SK pindah ke SMP Susteran Purwokerto. Mulai tahun ajaran 2005-2006 Sr Dominica OP mulai hadir di sekolah Yos Sudarso guna membuka lahan kerasulan. Tepatnya bulan Agustus 2005 Komunitas Majenang mulai dengan karya kerasulan di sekolah yaitu dibawah yayasan Sosial Bina Sejahtera dengan pimpinan Rm Carolus, OMI. Setelah mencari dan menghubungi yayasan dan berbicara pribadi dengan Rm. Carolus, mulailah Sr. Domonica OP mengajar dan menjadi BP di SMK dan SMA Yos Sudarso. Karena kekurangan tenaga Pastoral, maka komunitas minta tambahan anggota baru. Pada tanggal 8 Januari 2006, hadirlah Sr. Zita OP guna memperkuat derap langkah komunitas ini baik dalam hidup berkomunitas maupun dalam karya. Sr Zita OP dipersiapkan untuk hadir dalam karya Pastoral. Setelah 2 tahun akan diadakan evaluasi bersama Kongregasi untuk kelanjutan komunitas ini.
“ Segala sesuatu yang diawali bersama dengan Dia dan untuk Dia, akan diselesaikan pula bersama Dia dan untuk Dia.”
Tuhan memberkati ! (Sr. Dom OP)
|